Yang pertama : ketika aku berupaya meninggikan diri sendiri dengan mengeksploitasi yang lemah
Yang kedua : ketika aku timpang di hadapan mereka yang lumpuh
Yang ketiga : ketika setelah diberikan pilihan aku memilih yang mudah ketimbang yang sulit
Yang keempat : ketika aku membuat sesuatu kekeliruan kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain
Yang kelima : ketika aku bersikap jinak ketakutan lalu mengklaim diriku kuat dalam kesabaran
Yang keenam : ketika kuangkat pakaianku untuk menghindari lumpur kehidupan
Yang ketujuh : ketika aku berdiri menyanyikan kidung bagi Tuhan dan menganggap hanya itulah satu-satunya nyanyian kebajikan
-Kahlil Gibran
Ketika kecil ibu selalu memberinya warna hijau,
Entah malaikat mana yang membisikkan kata hijau, menyusupkan secercah aura hijau atau menitikkan tanda hijau di wajahnya.
Ia bukan menginginkan anaknya untuk suka berselimut hijau seperti pisang ijo ataupun seperti Princess Fiona yang berubah menjadi manusia hijau.
Oh bukan, tentu saja.
Ia hanya menyadari, hijau akan banyak membawa kebaikan pada hidup anaknya kelak. Ketika penat, melihat warna hijau akan meneduhkan mata. Ketika lemah, hijau akan memberikan energi seperti daun yang berfotosintesis. Terlebih lagi ia menginginkan anaknya menjadi salah satu dari bidadari-bidadari yang mengenakan gaun hijau di surgaNya yang mulia.
Mungkin hijau lah yang memilih takdirnya untuk mewarnai gadis itu. Menitipkan pesan untuk dapat membagi dan mengajak warna lain menghias dunia seindah pelangi.
Ya gadis itu yang berwarna hijau, hingga kini sampai nanti, mungkin selamanya..
Dan dia akan tetap menyukainya.
Ali Bin Abu Thalib